Selasa, 29 Desember 2009

TEMAN = K-A-L-I-A-N

Mereka tak lelah tersenyum dalam album – album, dalam gambar – gambar yang memenuhi kamarku…walau aku tengah dirundung sedih,.walau status social membuat aku tak seperti mereka…tapi aku masih melihat senyum mereka padaku…yach! Senyum yang tak akan bisa dibeli dimanapun sebagai obat lelah. Terkadang ketika diri ini rapuh, temanlah yang membuat hati bangkit tuk terus berjuang. Kita tak harus bersama setiap hari, karna kutahu mereka tengah menyiapkan sebuah kebahagiaan tuk dikabarkan di hari nanti ketika kita bertemu.
Teman sejati tak datang di kala butuh saja…tak slalu mengeluhkan stiap masalah yang ada, tak lupa akan kenangan yang pernah tergores, mereka membuatmu nyaman dikala bersama, tanpa “embel-embel” status sosial, tanpa kesombongan, tanpa kepalsuan.
Lihat kawan…album fotoku penuh dengan wajah kalian…tak bosan kupandang satu demi satu, seakan mengajakku mengingat kala foto itu diambil…Aku merasa kaya mempunyai kalian..hati ini damai mempunyai kalian, tak peduli aku tak punya harta banyak tuk bahagiakan kalian, tapi smoga senyum kita ini bisa menghangatkan lingkaran kita.
Teman,…mungkin aku tak begitu tahu banyak arti dibaliknya, namun yang kutahu…teman itu kalian, yang dengan tulus menerimaku apa adanya, yang membuatku terus semangat, yang membuatku percaya diri, dan tentu skali lagi, datang tak hanya dikala butuh saja.
Teruslah tersenyum untukku teman……Ingatlah slalu hari kemarin, sekarang, dan esok ketika kita bertemu lagi…

Selasa, 01 Desember 2009

Antara Skripsi dan PNS

Kasihan ....begitu kuterlantarkan paragraf-paragraf indah yang slalu mengajakku liar bermain kata...sepertinya tak ada semenitpun waktu yang tersisa sekedar liar nakal bergumul dengan kata..waktu semakin mengerjar, seakan prioritas kehidupan ini menuntut agar tak membuntut, melaju dalam jalan terjal yang tak ada kata " berhenti".
Ya. memang sudah saatnya. Mungkin begitu kata yang tepat agar diri ini punya sebuah Motivasi.

Antara dua ambang ini mengikat sangat dalam satu waktu saling berjubal tak hiraukan bahwa banyak perkara lain yang musti terselesaikan. hah...!
kapankah kau membuatku bahagia skripsi ? PNS ?
Sungguh sangat menyita relung-relung hatiku ...( hehhe lebay ne ), hingga memaksaku tuk mencintai bahkan mendua untuk kalian...bisakah tercapai dengan adil ?

Aku sendiri sampai lupa bagaimana caranya bermain-main, nongkrong tanpa mengenal waktu bersama kawan - kawan,..persinggahan ini hanya tertuju pada kampus untuk kuliah sang skripsi, warnet untuk uang makan, kos untuk merebahkan tubuh alias tidur...cinta ? ach kasihan dia, mungkin dia ada di jam 25 ku...walaupun di hatiku ada besar dia yang saat ini bergelut dengan skripsi dan PNS. Biar saja mereka saling sepak terjang di dalam hatiku...serang dech pokoknya...

Ada harapan besar yang tersangkut pada mereka, karnanya dikorbankan sgala kesenangan itu. Dengan rumus golden ways D-U-I-T ( Doa, usaha, ikhlas, tawakal ) smoga ku bisa mencintai mereka, skripsi...PNS...kau ada dihatiku...datanglah padaku dengan senyumanmu....:)

Kamis, 05 November 2009

POLA PENGGUNAAN WARNET

Keterangan :
P = Pengunjung
O = Operator

Kisah 1 :
P = "Mas tolong bukain passwordnya dong"
O = "Password ??"
P = "Iya nih passwordnya"
O = (Liat kertas yang dibawa) eeeetttt dah ini mah alamat situs bukan password dengan cool-nya aku buka alamat situs yang tercantum n akhirnya gak bisa krn mungkin kedodolan penulisan
P = (Nelpon temennya) "Woi passwordnya kagak bisa di buka nih !! Gimana dong.... bla ... bla .... bla ..."
O = .......
P = "Ya udah mbak makasih ya" ~ pergi

Kisah 2 :
P = (Abis ngeprint 3-5 lembar, udah mau bayar di meja OP) "Mbak minta kertas dong"
O = "Kertas buat apaan mbak?"
P = "Buat bungkus"
O = "Plastik kali mbak"
P = "Eh iya plastik"

Kisah 3 : (Biasanya emak2 )
P = "Mbak tolong bukain email dong ni alamatnya"
O = (Perasaanku udah ga enak, tapi dengan panjang sabar ku layanin, aku buka tuh yahoo masukin ID) "Passwordnya apa bu??"
P = "Ya ini"
O = "Bu, ini namanya ID bukan Password"
P = "Ohhh, ya udah deh mas tolong bikinin paswordnya"
O = "Bu, password ini yang tahu yang punya email, emang ini email sapa?"
P = "Punya anak saya, ya udah deh saya tanya dulu anaknya" (Ngeloyor pergi dan mayoritas ga balik lagi)

Kisah 4 : (Biasanya orang2 yang mau ngelamar kerja dengan gaya sok2an)
P = "Mas tolong print dong!"
O = (Lagi sibuk) "Ohhh pake komputer itu aja mas"
P = "Mmmmm ... bisa di print-in gak??"
O = (Dengan gaya ngomong lembut dan rasa ingin tahu ) "Ga bisa ngeprint sendiri mas??"
P = (Muka cari2 alasan) "Mmmmm .... buru2 nih saya, lebih enak mbaknya aja yang print-in"
O = (Dengan dongkol diliputi kepanjang sabaran aku layanin, buka file dan ternyata saudara2 di surat lamarannya di tulis keahliannya dalam bidang komputer AHLI MENGETIK 10 JARI, LANCAR MENGGUNAKAN WORD, DSB .... tapi ngeprint aja kagak
bisa )

Kisah 5 : (Biasanya bapak2 )
P = "Mas tolong ketikin dong" (nyerahin kertas2 file tabel bejibun bikin mata pusing )
O = "Ohhh bisa pak mau diambil kapan??"
P = "Sekarang mas, saya tungguin"
O = (terasa pengen mati ) "Wah gak bisa pak kalo tabel banyak gini musti di tinggal"
P = (Dengan nada agak galak) "Wah saya maunya sekarang pak, harus jadi sekarang"
O = (Untung gw panjang sabar, baik hati dan tidak sombong kalo kagak udah gw tiban pake CPU tuh orang ) "Maap pak gak bisa"
P = (Diem, tau mikir tau sakit perut ) "Ya udah deh"~ dengan muka kesel

Kisah 6 :
P = "Mas ada yang kosong??"
O = "Ada mbak tuh no 14"
P = (Duduk sambil utak-atik HP)
Dan waktu pun berjalan kira2 setengah jam~
O = (Gw perhatiin kok gak ada pergerakan di no 14)
P = "Mas cara idupinnya gmn??"
O = (Nahan ketawa sampe pengen kencing )

Kisah 7 : (Serupa sama no.6 tapi agak beda )
P = "Mas ada yang kosong??"
O = "Ada mbak tuh no 15"
P = (Duduk ber-2 sama temennya, liat monitor, siap pake)
Dan waktu pun berjalan kira2 10-15 menitan
P = "Mas ini udah bisa di pake"
O = (Billingnya gak di start2 dari tadi)

Kisah 8 :
P = "Mas mau print, pake PC yang mana?"
O = "Yang itu mbak"
P = (Bingung clingak-clinguk liatin CPU) "Buat colokin USB dmn mas?"
O = (Ane tunjuk) "Itu mbak di bawah"
Waktu berlalu 5 menitan
P = "Mas gak bisa masuk2 nih, kayaknya eror"
O = (Bingung ) "Mana mbak"
P = "Nih" (Dengan polosnya mempraktekan cara masukin flashdisk di lobang disket 3 1/2 Floppy )


Kisah 9 :
P = "Misi masss, tolong ketikin dong"
O = "Oooo bisa pak .... mana yang mau diketik ?"
P = "Ini mas, gampang kok, cuma selembar .... cuma minta tolong ketikin KK"
O = ( dikira Kelurahan kali) "Gak bisa pak ...." (Trus gw jelasin panjang lebar tentang KK, cara pembuatannya, dan harus lapor kemana ... yaaaa kira2 yang pegawai kelurahan gitu lah cara ngomong gw )

Kisah 10 ( Demam Facebook, sering bgt neh )
P = “Mbak, bias minta tolong kesini mbak…” (sambil manggil dari kejauhan)
O = “ Gimana mbak….?”
P = “ Caranya masukin foto ke facebook gimana ya mbak ?”
(Wedew…pada gaya pake facebook tapi bikin pusing sendiri)



Kisah 11 : (Seriiiingggg banget sampe bosen)
P = "Bisa fax"
O = "Gak bisa pak"
P = "Yang bisa dimana ya?"
O = "Ga tahu pak"
Logika = udah jelas2 di tulis di depan ... WARNET, buta apa budeg sih. Logikanya WARNET means no fax, internet, computer, print only. Kalo ketemu orang kayak gini rasanya bener2 pengen bunuh diri


Kisah 12 : ( Mahasiswa mau kirim tugas ke dosen )
P = “mbak, minta tolong saya mau scan Koran buat tugas, dianalisis trus dikirim ke email ini”
O = ( wedew, korannya banyak gtu ), “ dipotong kecil dulu mba biar ngirit scan, nanti mau disimpan di flashdisk aj ga mbak?”
P = “ Beli flasdisk dimana ya mbak ?”
O=(Ampun dech ), “ yadah ntar simpen sini dulu aja”
Billing berjalan terus, ..
P = “ Udah slesai mbak ngerjainnya, sekarang mau dikirim ke email ini”
O = “ Ya login email mbaknya dulu”
P = “Wah gimana ya mbak, ga punya, bikinnya gimana ?”
( Selama 5 jam jadi bu guru di warnet,mpe ada acara pinjem mukena----warnet pa masjid ne?…hahhaha, katanya mahasiswa…lha kok?)

Kisah 13 (paling hot)
Pasangan cewek cowok masuk…
P : “Mbak, dalem apa atas ada yang kosong?”
O : “ Ada mas….”
(Iseng di remote lewat billing operator, loh login personal, tapi kok ga online web apapun…setelah diintip, ternyata sewa tempat buat mesum…kalo ketauan langsung buru-buru keluar dengan tampang yang nanggung gtu..hahhaha)

Minggu, 01 November 2009

Ada kisah yang tertinggal di kota itu



Entah dimana kisah ini menemukan awal yang tepat
untuk sekedar mengabadikan sebuah rasa yang terpendam.
Dalam bingkai “tanda petik”
yang belum ditemu jawabnya.



Kisah ini saya temukan di sudut kota yang mempunyai jargon ‘never ending Asia’. Saat di perbatasan itu seorang gadis kebingungan membuang segala asa dalam hati yang tak mampu bicara. Disana…..ia memintaku menuangkan memorinya dalam lembar yang ia sebut ‘secret note.’

……………………………………………………………………………………………
Malam itu, ketika tiba-tiba ibuku mengingatkanku tentang seorang teman lama di bangku sekolah…ya kira-kira tiga tahun yang lalu, ia datang ke rumah untuk membuka kembali pertalian yang pernah kukenal. Walaupun sedikit enggan aku menemuinya dan akupun juga sudah tak begitu mengingatnya…namun kucoba keluar dari kamar atas permintaan ibu.
Kami punya tiga kota yang mempertemukan kami, kotaku, kotanya tinggal, dan kota disini aku menuntut ilmu. Mungkin terlalu lama ketikanya dia datang dan pergi mencoret rasa pada hati tanpa sebuah kepastian. Ya…kesibukan dan jarak yang membuat smua kabur hingganya pada suatu sela kesempatan, seorang yang Tuhan kirimkan dengan nama sama hadir dan merenggut ruang-ruang kabur di hatiku. Dia telah mengisinya, tanpa pernah kusadari tentang rasa lain yang pernah sedikit datang lalu ku mengusirnya.
Mungkin terlalu lama tlah terabaikan seorang di kota itu…hingga harinya tak tahu mengapa komunikasi antara kita kembali tersambung. Mungkin selama ini aku tlah jauh dari hubungannya, namun dia terkadang menjalin persaudaraan dengan ibuku. Pernah juga suatu kali dia memperkenalkanku dengan orang tuanya, diapun tak ragu tuk sekedar silaturahmi ke rumah orang tuaku. Entah…akupun tak pernah paham apa yang dimaunya dari aku yang dia panggil ‘dek’.
Dia sering hadir dalam suara jarak jauh telepon, terkadang menghampiriku datang dari kotanya walaupun sejenak. Kembali lagi, aku tak memikirkan serius tentangnya. Biarlah lewat sebagai persaudaraan, toh akupun tlah punya .
Kurasa aku sedikit tenang ketika dia sudah mempunyai seorang kekasih, walaupun ada sedikit rasa tak rela. Tak taulah….aku sendiri tidak bisa begitu percaya padanya karna akupun tak tahu bagaimana dia di kota itu, apa dia juga mendekati wanita lain di kota itu. Slalu itu yang kupertanyakan hingga smua kabur tak jelas. Dan dia slalu bisa menjadi seperti dewasa di sela tanyaku…seakan alibi yang membuatku nyaman.
Sampai akhirnya disini, saat hatiku gundah dan stasiun yang berat kutinggalkan ini mengungkap sgala pengingkaran hati selama ini. Setelah sekian hari aku menunggu seseorang yang kupilih sendiri tuk mendapatkan keyakinan dan keseriusan yang tak kunjung kurasakan. Dia……dia kembali bermain-main dalam kebimbanganku.
Setelah semua ini terjadi, setelah dulu aku menolaknya, aku harus bertemu dengan rasa yang tak seharusnya. Haruskah kutinggalkan kisah ini di kotanya ? Apakah smua ini sudah terlambat ?
Jalan terbaik….tanpa luka ….pilihan tepat . Waktu tak akan pernah dapat kembali. Sperti tak ingin ku ulang lagi saat kupijakkan kaki di kota itu. Saat diri ini berat juga meninggalkan stasiun dan dia.
Mungkin sekarang dalam hatinya tak tersirat besar namaku. Dia tak lagi yang dulu ketikanya kini ku terlambat. Tak usahlah disesali. Cuma sedikit berharap, smoga Tuhan memberikan pilihan yang tepat padaku. Biar rasa ini tak lagi bimbang.
Biar ku kembali ke kota ini dengan yang kumiliki. Berusaha membuka motivasi baru seperti nasehat yang dia berikan.
Stasiun, prameks, dan kota yang ku cinta sesaat……berikan aku jawaban atas smua ini. Rasa yang sungguh tak wajar ini knapa harus singgah di hati gadis biasa sepertiku.
Mungkin memang sekarang menjadi terlarang untukku. Mungkin aku tak sepantasnya…akhirilah….
Prameks….sampaikan padanya, aku disini baik-baik saja, mungkin aku tak akan berhenti di stasiun itu untuknya lagi…tanpa ijin Tuhan…

“ never ending Asia, but ending with one choice”
…………………………………………………………………………………………

Baru saja slesai saya tamatkan ceritanya dan gadis itu tlah begitu cepat melaju di dalam prameks. Biar saya simpan kisah yang dia tinggalkan di kota ini tanpanya tahu. Biar nanti jikanya kutemui gadis itu lagi, akan kutanya akhir dari perjalanan cinta yang Tuhan berikan padanya. Kejarlah prameksmu kawan….tinggalkan kota dan kisahmu ini.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Di balik senyum yang hilang ( Bag II )

…………………………………………….continou…………………………………………………………

Tak lama dia memasukkan kembali foto pria itu dan melanjutkan lagi perjalanannya, entah kemana…yang pasti aku masih belum puas tuk berhenti disini tanpa jawaban tentang smua pertanyaan ini. Yach mungkin sedikit bergaya seperti Densus 88 saat berpatroli menguntit teroris, hahaha apa kalo tidak sedikit meniru detektif Conan saat penyelidikan kasus…uhmmm…wah kebanyakan berkhayal jangan sampai kehilangan jejak nech…

‘Penguntitan kembali berlanjut…..’

Sampai di sebuah rumah sederhana sebelah surau kecil, aku melihatnya memasuki rumah itu. Untung saja di seberang rumahnya ada sebuah warung kecil yang ditunggui nenek tua, sambil melepas lelah aku menunggunya di warung. Tak lama adzan magrib terdengar memecah sunyi dalam gelap yang mulai mendekap senja. Dan seperti biasanya aku tak pernah memperdulikan suara adzan, bahkan terkadang aku lebih memilih mendengar lagu Rock n Roll yang cadas daripada suara adzan yang memekikan telingaku. Entah berapa lama aku lupa caranya sembahyang.

Dan rasa penasaran terhadap gadis itu semakin mengalahkan ingatanku…amnesia sementara bahwa aku seharusnya berangkat latihan taekwondo. Aku sendiri tak tahu knapa aku bisa sangat termotivasi tuk melakukan tindakan bodoh yang belum tentu ada hasilnya ini.

Ach terlalu lama aku bicara disini tanpa tahu apa yang gadis itu lakukan…tanpa kusadari gadis itu memasuki surau di samping rumahnya. Langsung saja secercah ide timbul di otak encerku tuk pura-pura ibadah di surau itu, ya….pura-pura. Karna aku tak berminat tuk melakukan ritual sembahyang itu. Kembali ku mengintipnya diantaranya papan bilik yang membatasi ruang pria dan wanita. Begitu khusyuk …dan wajahnya seakan memancarkan sinar yang menyejukkan hatiku. Tak peduli kalau orang-orang yang di sebelahku memandang curiga atas sikapku ini. Cukup lama dia berdoa, sampai jamaah lain sudah pulang, dia masih terduduk disitu, seakan begitu besar permintaannya pada Tuhan.

“45 menit kemudian…….”

Dia memasuki rumahnya yang terlihat sunyi itu, yach mungkin sesunyi hatinya. Tak Nampak orang lain selain dirinya dalam ruangan ketika kulihat dari jendela rumahnya. Ac h lebih baik aku pulang saja daripada menunggu hal yang tak ada hasilnya . Petang ini kuputuskan pulang saja, toh setidaknya aku sudah tahu dimana rumahnya.

“ hari berikutnya……”

Pagi-pagi aku terbangun dengan semangat karna ingin melihatnya melewati depan rumahku seperti biasanya. Pukul tujuh…ya sekitar pukul tujuh dia selalu lewat sini. Secangkir kopi dan gitar ini yang menemaniku di teras sekedar menunggu gadis misterius itu lewat tanpa senyum untuk siapapun.

Kopi di cangkirku sudah mulai habis, lagu andalanku sudah beberapa kali kumainkan dengan gitarku, tapi gadis itu tak kunjung lewat, jam di tanganku menunjukkan pukul delapan. Hah menambah tumpukan rasa penasaranku saja …apa yang terjadi padanya ? Ach mungkin pagi ini dia berangkat lebih pagi dari biasanya dan aku tak tahu.biarlah esok saja aku melihatnya.

“next day……..”

Seperti rutinitas pagiku biasanya, kopi, gitar, dan gadis itu. Sial…!!! Pagi inipun dia kembali tak lewat, apa dia tengah sakit ? padahal pagi ini aku bangun lebih awal hanya untuknya. Dua jam aku terduduk menunggunya. Tanpa pikir panjang segera tancap gas melaju ke rumah yang kemarin berhasil kubuntuti. Tentu saja aku tak berani langsung bertandang ke rumahnya, bisa-bisa dia malah ketakutan didatangi lelaki asing sepertiku. Kusandarkan tiger ku di sebelah warung kecil di sebrang rumahnya, sambil menyulut rokok, iseng aku mulai bertanya pada nenek pemilik warung. Lagi-lagi aku bergaya sok detektif yang sedang menyamar , dan kali ini aku mengaku sebagai teman SMA nya yang lama kehilangan kontak, smoga saja nenek terlalu tua untuk curiga.

Sedikit lega ketika kudengar cerita nenek. Katanya, dia bernama SENJA. Uhmm, nama yang cukup aneh tuk gadis secantik dia walopun tanpa senyum. Memang dia sudah lama tak terlihat mempunyai senyum, bahkan untuk bicara pun hanya seperlunya saja. Di rumah itu dia tinggal sendirian, padahal setahu nenek dulu dia tinggal bersama seorang lelaki yang tampan. Ach si nenek ne lumayan ganjen juga cerita padaku, membuatku seperti cemburu yang tak seharusnya. Apa lelaki itu suaminya?
Dan cerita si nenek semakin membuatku lemas ketika dia berkata bahwa kemarin gadis itu kedatangan tamu. Seorang lelaki yang dulu tinggal bersamanya, sang nenek hanya melihatnya dari seberang warungnya. Mereka pergi membawa barang-barang banyak, naik mobil dengan plat B. uhmmm teliti juga si nenek ini. Sungguh aku merasa sangat bodoh knapa kemarin aku tidak datang kemari, yach walaupun aku tak bisa mendekatinya, mungkin aku bisa melihat sedikit senyumnya dan alasan atas senyum yang tersimpan.

Ya. Seakan semua ini telah terjawab. Tapi tidak bagiku. Surau di samping rumahnya seakan memanggilku begitu kuat tuk mampir sebentar. Entah mengapa kaki ini begitu ringan melangkah memasuki surau. Hatiku merasa sangat kehilangan. Kebodohan lagi karna aku tak mengenalnya sedikitpun, tapi dia mampu merenggut semua ruang di hatiku. Hah seorang tangguh juara taekwondo sepertiku didramatisir oleh gadis senja?

Dalam hati ini seperti ada gejolak yang meyakini bahwa suatu hari nanti aku masih bisa bertemu dengannya. Sekedar melihat senyum termanis yang dia miliki. Di surau ini akan jadi saksi, ketika hari ini aku tiba-tiba tergerak mencoba mengambil air wudhu dan berdoa seperti yang dia lakukan. Entah…aku sendiri malu, knapa dia mampu membuatku seperti ini. Apa dia malaikat yang telah dikirim oleh Tuhan ?

Aku mulai betah dan sering berkunjung ke surau ini, sambil berharap Tuhan mengijinkanku bertemu dengannya. Harapan itu semoga tidak terlalu besar bersemayam dalam hatiku. Terimakasih senja……karna kau , aku tahu betapa hidup ini perlu keberanian, perlu doa dan harapan, seperti mungkin yang selama ini kau lakukan, kau harapkan dari lelaki yang membawamu tempo hari. Ya…itu hanya sedikit perkiraanku tentang alasanmu.

Bisakah aku melihat senyum itu Senja ?


*end*

Jumat, 16 Oktober 2009

10 Rahasia Sukses Orang-Orang Jepang

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Dibalik senyum yang hilang ( Bag I )

Pagi ini terlalu sendu tuk menghadirkan sedikit saja senyum dalam wajah bisunya. Ketika seperti pagi biasanya kusapa gadis bermata coklat itu, melewati jalan depan rumahku. Entah knapa slalu kulihat wajah itu dengan rasa yang berbeda tiap harinya…namun pagi ini sungguh membuatku ingin bertanya padanya, tapi aku tak sangup…sampai akhirnya dia lewat jauh menuju tempatnya bekerja. Ach…siapa nama gadis itu ? apakah dia milik orang ? ya..hanya itu saja yang slalu bergejolak dalam hatiku

……………………………………………………………………………………………………………………………

Dan sore ini ketika kutunggu dia keluar dari tempat kerjanya,..kuberanikan diri tuk mengikutinya dari jarak 100 meter, uhmmm apa aku mesti dating padanya sekedar bertanya siapa namanya ? ada masalah apa sehingga membuat wajahnya kehilangan suka ?
Terus saja ku membuntutinya sambil memandang tubuh kecilnya bergoyang oleh langkah kakinya, tak menghiraukan seberapa jauh ia telah berjalan. Sampai di gubuk kecil pinggir sungai, ia menghentikan langkahnya, lalu ia duduk termenung di gubuk kecil tak terawat itu. Apa-apaan lagi ini, knapa dia tak pulang ke rumahnya ? apa dia tak lelah seharian bekerja? Dimana sebenarnya rumahnya ? Tanpa disadarinya aku bersembunyi di balik gubuk itu.

Sunyi…..dan ia terus saja memandang jauh senja yang mulai menampakkan keindahannya. Aku masih saja tak berani tuk sedikitpun menggerakkan kakiku, Cuma sesekali mengintip di sela –sela bilik, tuk memastikan dia masih disitu. Masih tak ada suara…….., setengah jam berlalu hingga aku terkantuk dan kaget ketika kudengar dia bersenandung sambil lincah jari-jari manisnya menulis di buku kecil berwarna coklat. Entah apa yang tengah dia tulis, sepertinya akupun tak bisa menghentikannya. Masih saja tak ada senyum walaupun senandung itu sedikit menyejukkan wajahnya.
Tak lama dia mengeluarkan selembar foto seorang lelaki berparas hitam manis dengan wajah tegas, ya walaupun hanya samar – samar kubisa melihatnya, sambil terus menjaga tubuhku agar tak mengeluarkan suara, nafaskupun seolah kuredam agar tak mengganggu siasat bodohku ini. “Oh Tuhan siapa lelaki itu ? apa dia yang sanggup membuatnya tersenyum ?”

Deg…deg…deg…….dan jantungku semakin berdegup kencang olehnya….ach peduli apa aku ini…aku tak mencintainya, aku belum mengenalnya, Cuma sedikit rasa penasaran akan senyum yang hilang itu…oh tidak…..! apa aku harus membuang waktuku tuk sebuah rasa penasaran ?


" to be continou "

Jumat, 09 Oktober 2009

Sleep Paralysis

copas sekedar inpo...

Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? dont worry, anda tidak sedang diganggu makhluk halus. Ini penjelasan ilmiahnya.


Pada saat mengalami ini biasanya kita akan sulit sekali bergerak dan kemudian ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali,biasanya disertai juga dengan munculnya bayangan kegelapan. Hal inilah yang diasumsikan “ketindihan” makhluk halus orang sebagian besar orang.

Sleep Paralysis

Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.

Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.

Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.

Kurang Tidur

Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).

Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.

Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).

Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.



Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.

Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.

Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.

Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.

Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.

Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara

- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.

- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.

- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.

- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.

- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.

- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.

- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.

- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.

- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.

- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.

- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.

Senin, 14 September 2009

- REALITY INI SIAL “A” -



A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
.
.
.
.
Take “A” for me.
.
.
.
"A"
A sebagai permulaan pada setiap bagian. A mungkin saja sama dengan 1. Banyak sekali yang bisa dilakukan dengan sebuah A dan kita tentu saja bebas tuk mengolahnya menjadi bentuk apapun, bahkan mengawinkannya dengan huruf lain agar tercipta kata-kata yang indah.
Ya. Walaupun Cuma dari A(walan) yang sederhana.
Namun, A disini akan lebih spesifik pada A yang menyandang jabatan Presiden Utama dari sebuah Nama. A (besar) dari Namaku dengan huruf vokal A. Mungkin sebut saja Ini sial…ato Inisial ?
Banyak alasan mengapa orang tua meminjam Inisial A tuk mengiringi kesuksesan anaknya. Dari A diharapkan bisa menjadi anak yang utama dan mendapatkan hal-hal yang terbaik.
Nah kalau kita tinjau lebih jauh lagi, ternyata si “A” ini menimbulkan reality-reality yang terkadang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tersendiri bagi penyandangnya.
Cekidot……………………………………………………………………………………

“A”
………..Sejak di bangku sekolah, penyandang nama dengan inisial “A” selalu mendapat nomor urut kelas dengan nomor – nomor kecil (istilahnya bangku depan), tentunya saat-saat ujian juga tak pernah menjamah nomor-nomor berat seperti 20 ke atas, yach kecuali satu kelas banyak banget yang mempunyai Inisial “A”.

“A”
………Sering mendapatkan salah kirim SMS, salah telp gara-gara kepencet. Loh kok bisa ? Wah kaya pulsa ne SMS banyak-banyak tapi kosongan, ato telp kok diangkat tapi diem aja ?
Nah mari kita kaji, coba ambil HandPhone dan lihat bagaimana sang Phonebook bekerja dalam menyimpan nomor-nomor teman kita. Bisa kita lihat Inisial “A” menduduki peringkat atas di phonebook. Tak heran jika sering menjadi salah sasaran. Kalo salah sasaran kirim pulsa ato duit mah kita tak masalah,..tapi kalo salah SMS buat sayang-sayangan ato dimaki-maki….Ampun dech…hehehe

“A”
………..Sering di SMS teman sekedar menanyakan tugas ato menanyakan kuliah udah masuk ato malah buat nitip absen….wow!
Kadang terpikir juga, apa yang mengetik SMS satu orang terus di copy paste temen lain, final dikirim ke penyandang Inisial “A” ? Lha tujuan Reply nya sama nech…agak Malay juga Reply nya mungkin…kayak Operator gitu jadinya…huehehe
Untuk Reality yang satu ini, tidak begitu yakin c apa Inisial “A” membawa dampak pada semua orang yang mempunyainya. Tapi bisa juga dijadikan periksa lho..! Mungkin pilih cepatnya aja kirim SMS ke Inisial “A” yang tentunya gampang terlihat di phonebook. Apa jangan-jangan Inisial “A” ini melekat di hati teman-teman sebagai anak yang rajin ?
Hahhaha..melambung tinggi nech…
Apapun Alasannya yang jelas harus bangga dengan Inisial “A”.
“A” yang mempunyai makna sama dengan arti Asri (Aman Sehat Rapi Indah). Hopefully.
Cap Cuz……



SILAHKAN SALAH KIRIM PULSA KE INISIAL “A”
Ketik Salah Kirim “A” ( Send to + 62856 43** **** )
Makasih….


Minggu, 13 September 2009

LUWES LOJI WETAN DISERBU WARGA SOLO

SOLO - Antusias warga Solo dalam mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri yang tinggal tujuh hari lagi terlihat di salah satu pusat belanja Luwes Loji Wetan (13/09). Tempat parkir kendaraan pengunjung berderet – deret penuh sesak namapak sebelum memasuki arena belanja tersebut. Luwes yang menyediakan beraneka ragam kebutuhan mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, alat rumah tangga hingga pakaian mampu menyedot perhatian pengunjung dengan harga - harganya yang relatif murah.
Menjelang Idul Fitri Luwes juga menyediakan barang-barang kebutuhan ibadah seperti mukena dan sajadah, tak ketinggalan parcel-parcel yang dihias indah berjejer menarik setiap mata yang memandang.

Obral kaos yang diletakkan dalam box dijual dengan harga berkisar antara Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000. Tak heran jika kalangan anak muda banyak berebut memilih kaos yang sangat terjangkau kantong mereka.

Nampaknya Krisis ekonomi yang melanda Negara Indonesia tak berdampak pada hasrat konsumerisme warga Solo. Tradisi masyarakat Indonesia pun dalam menyambut Idul Fitri sepertinya kurang sejalan dengan makna hari besar umat Islam yang diharapkan hati kembali baru. Namun hal tersebut justru dimaknai dengan cara membeli baju baru, sandal baru, kue-kue dan sebagainya. Tentu saja para pemilik usahalah yang merasa diuntungkan dalam kondisi seperti itu. (AH)

Kamis, 10 September 2009

Mencari Senja selalu



Selalu senja yang menghidupiku dalam peraduan kata yang berharap wajar...Melebur menyusup dalam setiap kasih yang terjaga..Panasnya siang slalu dinikmati dengan segala peluhnya, karnanya tahu senja kan hadir menyertainya..Indah menjamah relung relung nurani. Bukan hitam, putih, atopun merah jambu kesukaan...namun sunguh kolaborasi warna yang menyatu dalam eloknya senja, seakan memberi makna betapa hidup ini tak berhenti pada satu warna.
Ruang ruang senja itu tlah nyata karna hadirnya, walopun dianya yang ada tak pernah tahu seperti apa ku bergumul dengan kata kata yang terkadang sedikit jalang menyapanya.Sekedar mengajak mereka menari untuknya apa salahnya bukan ?
Suatu kali kutemukan sedikit kesan apatis melekat pada kasih yang dia sandang, entah dalam sadarnya atau samar tuk sedikit menguji egonya dia.
Ya. Sebut saja Dia. Karna mungkin saatnya nanti kata kau kan melebur bersama aku dan mereka akan menyebutnya Dia dalam satu.
Melodi ini mengalun antara venus dan mars dalam waktu yang semakin matang meninggalkan masa kanak-kanaknya...mungkin nya sebut dewasa. Dia kata tak saatnya lagi mengacu pada sebuah simbolik yang sembunyi dalam raut yang meminta makna tanpa kata yang sumbang. Antara tubuh tubuh ini tak lagi penting, pertalian yang terus mencoba berproseslah yang mengambil peran dalam lakon yang dianya sambangi. Sekiranya begitu makna yang tertangkap darinya. Dengan kata lain waktulah yang membuat sepotong kasih tak kehilangan makna dalam indahnya senja yang pernah tergores, terkadang tak perlu risaukan segala penat yang lalu lalang menantang.
Karna senja lebih banyak menyimpan memori kekuatan untuknya.

Kan terus dicarinya baur-baur senja dalam sore yang keentah tak menjadi masalah, menyerap kata yang nyata tanpa bersembunyi dibalik apatisnya simbolik.
Ya....semoga kan dapat terus mencari dan mengerti. Senja dalam indah yang abadi. Redam panasnya dan kembali jelang senja tuk terus terjaga. Tak takut akan jelaganya malam, tak payah menyapa teriknya mentari. Peraduan yang diharap slalu ada namanya.


*hanya kata yang slalu menyadarkan bersama senja*

Sabtu, 05 September 2009

Pengakuan penunggu senja

Sebuah pengakuan kecil kudengar ketika ku tengah asyik bermain di bukit senja kala itu....dari jauh di balik pohon kusemakin penasaran tuk mengikuti setiap kata yang mengalir semakin basah...dan....

"..................................................................
Sedikitpun aku tak mengerti ketika baru saja mereka datang menjeratku perlahan semakin erat hingga aku terasa akan meledak...
Jantungku berdetak begitu hebat memacu...dan pikiran pikiran ini terus membuatku semakin gila..
Ada gumpalan cinta yang menumpuk dalam sudut yang tak diharapkan terlalu.
Kita tak lagi bocah-bocah kecil yang asyik bermain rasa....kita tak lagi sibuk memilih warna merah, hitam ,putih ato malah abu-abu. Kita seharusnya melaju di jalur ego yang harmoni.
Bagaimana kubisa membunuh mereka ? mereka....yang terus menjeratku dalam waktu yang dinamakan cinta. Bahkan aku sendiri terus takut dan kehilangan makna tuk menikmatinya.
Taukah....setiap kata yang mengejarku tuk mencari yakinku...membuatku semakin tak wajar. Entah pergumulan macam apa yang kau lakukan hingga memaksaku terjaga menantimu membawaku pada semat yang terakhir.
Dimana bisa kubeli sebuah "Sederhana" agar kubisa bebas ? bisa menikmati lagi senjaku..
Ketikanya dahulu aku bisa...karnanya sedikit kuselipkan kata selingkuh...dan setelah kubuang...syndrom bangsat ini berganti menggerogoti tiap sendiku...

Jadilah aku yang ada di senja dulu...tak punya kata lebih untuk sebuah cinta...
Mungkin aku terlalu istimewa menyandang cinta...
"..............................................................


Sungguh pengakuan yang membuat senja menangis sore ini...


Kamis, 03 September 2009

Pak Andjar Puspito ( Biografi yang menggugahku )


Repost : Dibuat oleh pak dhe Teguh sebelum Ayah ANDJAR Purna tugas

Siapa tak kenal sosok ini, selain ia seorang pekerja yang cakap dan santun , ia juga senang bergaul, humanis, hebat dalam bernyanyi dan seorang rohaniawan. Kalau sebut namanya pasti banyak orang yang mengenalnya karena nama Andjar Puspito sudah termasyur di lingkungan karyawan , juga di kemahasiswaan dan pelajar tingkat sekolah menengah umum di Jateng dan DIY .Karena melalui pengabdianya di Divisi Komunikasi menangani magang, gladi dan PKL selama 3,5 tahun tercatat tidak kurang 3000 siswa yang telah lulus dan lolos dibinanya.

Menurut biografinya Andjar selepas menyelesaikan pendidikan SLTA di kota Purbalingga Jawa Tengah tahun 1972, putra keempat dari pasangan bapak Soepardi dan ibu Wiyati ini harus meninggalkan kampung halaman menuju ibu kota Jakarta . Berawal sebagai tukang stensil di percetakaan kemudian meningkat menjadi karyawan pabrik bagian gudang dan akhirnya pindah ke perusahaan pipa ?Pralon? joint venture Indonesia ? Jepang yang berlokasi di Cimanggis Bogor, sebagai operator mesin. Merasa beratnya bekerja sebagai operator mesin yang harus kerja siang dan malam , mendorongnya dirinya untuk mencari pekerjaan lain yang akhirnya diterima sebagai juru operator Telegrap di Perusahaan Negara Telekomunikasi.

Mengawali karir di Perusahaan Negara Telekomunikasi yang kemudian berubah menjadi PERUMTEL, sebelum diangkat menjadi Capeg pada tanggal 1 Maret 1978, terlebih dahulu harus menjalani pendidikan sebagai Operator Telegrap selama kurang lebih enam bulan, untuk belajar teknologi tempo doeloe ?Morse? dan ?Melirik Pita Teleprinter? yang kini tergantikan dengan teknologi digital. Usai pendidikan, dibenum untuk pertama kalinya di Seksi Expedisi Kantor Telegrap Gambir Jalan Merdeka Selatan Jakarta hingga tahun 1983.

Sejak tahun 1983 hingga 1985, suami dari Sri Kunenwati yang juga seorang PNS ini berkesempatan mengikuti pendidikan penjejangan PAMTU Telekomunikasi di Gegerkalong Bandung, sehingga urusan kuliah sambil kerja yang dilakoninya pada jurusan Administrasi Negara Universitas Krisnadwipayana Jakarta hingga tingkat empat ditinggalkannya demi mengejar karir di perusahaan.

Tamat dari pendidikan Telkom di kota Bandung, bapak dua putra yang punya hobi mancing dan nyanyi ini ditempatkan untuk yang kedua kalinya di pulo dewata Bali, tepatnya di Seksi Kepegawaian Kandatel Denpasar, salah satu tugasnya melakukan tes kesegaran jasmani bagi karyawan di Catel-Catel, mulai dari Kancatel Negara, Tabanan, Denpasar, Bangli, Klungkung hingga Karang Asem atau dikenal dengan Amlapura, sehingga hampir seluruh pelosok wilayah Propinsi Bali pernah dijelajahi.

Saat bekerja di Bagian Kepegawaian Kantor Witel VIII Denpasar, datang panggilan dari Jakarta untuk mengikuti lomba kroncong Telkom tingkat nasional di Jakarta, usut punya usut, Bapak Suwito (dikenal buaya kroncongnya Telkom) merekomendasikan bahwa saya pernah memenangkan lomba kroncong di Jakarta .

Setelah enam tahun bergelut dengan data kepegawaian (SIMPEG) di Denpasar Bali , datanglah musim alih tugas dan saya diisukan akan dipromosikan sebagai KASUBSI Kepegawaian di Kandatratpon Dili Timor Timur sebelum lepas dari NKRI. Keruan saja issue itu membuat keluarga kalang kabut, pasalnya, anak laki-laki pertama belum disunat, khawatir di Timtim tidak ada dukun sunat tanpa basa-basi anak laki-laki satu-satunya dibawa ke RSAD Denpasar untuk segera dikhitan. Saat mengadakan syukuran khitanan di rumah diperoleh khabar, bahwa mutasi bukan ke Dili tapi ke pulo Sumbawa tepatnya ke Kandatel Bima NTB .

Meski daerahnya gersang dan udaranya yang panas namun empat tahun di Bima NTB membawa kesejukan tersendiri karena bisa bertemu dengan tokoh-tokoh alim ulama yang gigih melakukan dakwah dan mendidik ratusan santri, H. Ramli Achmad salah seorang sahabat yang mantan Qori Terbaik Tingkat Nasional tahun 1983 sekaligus pemenang Hafidz Qur?an tingkat dunia di Mesir pada tahun yang sama, memberikan warna tersendiri bagi perjalanan rohani dan peningkatan keimanan.

Setelah sepuluh tahun malang melintang di NTB, akhirnya turunlah SK mutasi nasional yang membawa pulang kami sekeluarga ke pulau jawa, dambaan bagi setiap karyawan Telkom untuk kembali ke habitatnya, setelah puluhan tahun bertugas di luar jawa, merupakan kegembiraan dan kebahagiaan bisa berkumpul kembali dengan sanak keluarga tentunya.

Masuk ke Divre IV Jateng & DIY Agustus 1995 berbarengan dengan datangnya angin perubahan organisasi menjadi KSO, yakni kerjasama operasi antara Telkom dengan perusahaan telekomunikasi Jepang, Singapura dan Australia, rupanya membawa hikmah sendiri bagi pria yang tidak suka merokok dan minum kopi ini, pasalnya meski hanya berbekal ketrampilan Litle Conversation, pada tahun 1997 mendapat tugas dari Kabid SDM Bapak Bambang TSW untuk berangkat ke negeri kanguru Australia, guna mengikuti pelatihan Human Resources Management di Sidney University, salah satu universitas tertua di negeri ini. Dennis Pratt, salah seorang instruktur, pakar dan penulis buku-buku HR Management menghadiahi sebuah buku karangannya berjudul Aspiring to Greatness, Above and B eyond Total Quality Management dengan secarik pesan For Andjar, I hope You Find it a Useful Book,? dan buku itu kini masih rapih tersimpan.

Waktupun terus berputar dan tiada terasa sepuluh tahunpun berlalu, ketika bertugas di Unit Telkom Flexi (UTF) Divre IV, karyawan yang sering mendapat tugas sampingan, Membacakan Doa di lingkungan kantor ini mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi ibadah haji berhasil lolos seleksi dan mendapat penghargaan perusahaan tertinggi untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci dengan biaya perusahaan.

Kini, tujuh hari menjelang memasuki masa purna bhakti, Andjar merasalkan dirinya terlihat semakin berat untuk meninggalkan rekan-rekan di Divisi Komunikasi sebagai bempernya perusahaan. Dari pengakuannya ?Divisi Komunikasi saat ini semakin solid, kompak dan penuh toleransi dalam kebersamaan menjalankan tugas sehari-hari . Pak Djatmiko sebagai komandan Purel yang tidak suka menunda pekerjaan dan banyak teman, Lik Madiman yang pekerja keras dan olahragawan, Pak De Teguh Cocomeo meski keberatan badan tapi daya pikir dan analisanya sangat tajam, kini mereka telah menjadi teladan dan guru saya dalam olah pekerjaan , demikian pengakuan sambil meneteskan air mata,

Pada awal September memang nama Andjar Puspito seakan menghilang dari jajaran Divisi Komunikasi, tapi harus diakui nama sosok itu masih melekat di hati jajaran ini. Komunikasi yang proaktif, dewasa, santun ,rendah hati dan penuh pengertian patut sebagai ilham bagi orang yang mengenalnya. Selamat jalan Almucharom Haji Andjar Puspito, seluruh jajaran komunikasi dan Sekretariat , SM.YK,SLO,PKL,PWK, D04, melepasmu dengan bangga penuh ketakjuban. Selamat menjalankan kenikmatan purna tugas , Tuhan menyertaimu!



NB : Kan slalu merindu saat2 bersama pak....

Cukup prioritaskah...?

Menggumpal sgala tanya atas kasih yang lama bersabar menanti
ketikanya pada sebuah hati ia berkata lirih
Menjemput makna persinggahan hangat penuh nafsu
dan ketikanya kau tak datang menjumput tanganku
di ujung sana kau tengah asyik dengan peraduan tanpa harga yang tak harus dibayar
Suaraku seakan tak menggelitik sedikitpun hatimu
yang meminta waktu dalam senja

aku tak harus katakan kiri ato kanan padamu
hanya berharap kau tahu harus melangkah kemana
Apa aku harus membayar sedikit waktumu ?
Agar kasih ini cukup prioritas menggapaimu
Ach mungkin sia saja ku balut rapat diri ini dari sgala rayu ajak
jikanya cuma bisa duduk dalam ruangmu kesekian
darinya jangan tanyakan kenapa ku belum yakin akanmu
sekedar mencari arti dalam sebuah kata Prioritas.

Selasa, 25 Agustus 2009

Geisha Spirit


*A geisha is one on the inside, long before her training in the art of geisha ever begins.
*It is in her heart and soul, even if she does not fully know this at present.
*It is in the natural grace in her movements, her soft spoken manner.
*It is in the way she carries herself, and sensuously walks into a room and gracefully bows with a most pleasing elegance.
*It is even in the tilt of her head.
*It is in her eyes; that quick seductive glance, then lowering of her eyes.
*Everything about a geisha, inside and out, is about the art of seduction and pleasing.
*She sees her complete life as an art.
*Geisha watch and learn their partner(s).
*She anticipates every need.
*Giving and preparing everything even before you know you want it.
*It is sensual seduction in it's purest form.
*She is fully empowered. It takes a geisha spirit to be fully empowered and self sufficient.
*She is one who does not need anyone, but passionately wants to serve and share her art for life with her partner(s).

Rabu, 19 Agustus 2009

Cuma Sebab

Pasti ada sebab diantara diamnya
Tanpa peduli sebab yang akan orang tahu.
Karna tak ingin gunjingan lagi
Karna tak ingin kata terlanjur basi
Karna tak ingin terlalu
Karna tak ingin pertengkaran tanpa ujung
Karna tak tahu kenapa
Karna perih yang tak kunjung reda
Karna tawa yang tertunda
Karna masalah selalu resah
Karna tangis tanpa air mata
Pasti ada sebab diantara keputusan
Sekedar mencari benar, mungkin juga tepat untuk tak lagi sekarat
tapi bagaimana jika sekarang laying-layang it uterus bermain-main dalam waktu yang mengejar, memaksa diri tuk melilitkan pada salah satu pohon, menjadi kuat dalam ikatan pasti, tak tergoncang angina yang selalu menggoda
tapi kapan sebab itu kan terlihat?
Pasti ada sebab diantara sebab
Tak kan
Jika sudah terjawab
Mencoba sebab
Sebab pilihan.

Minggu, 16 Agustus 2009

Lahirnya kembali media tulisku

Tak terasa ternyata udah dua tahun lebih aku menyia-nyiakannya...aku sendiri sampe lupa password blog apa...Hingga tepat di bulan kemerdekaan Indonesia ini, tiba-tiba ku berhasrat tuk kembali merangkum kata-kata yang berjubal dalam otakku ini...tentunya dengan ID yang baru...aku seperti menemukan kembali sejatinya diri. Yach..mungkin karna kejadian waktu itu membuatku sedikit trauma untuk menulis segala moment yang hadir. Sungguh karna keteledoranku membiarkan buku merah jambuku tergeletak di atas kasur hingga ortuku membacanya...oh my God. Kala itu aku masih berpredikat SMU, jadi ya punya kesempatan besar menulis cuma di buku merah jambu.
Menulis membuatku lega, berteman dengan imaji yang terkadang mengajakku ke dunia neverlandku...ehhmmmm bersama teman imajiku tentunya...menyenangkan.
Satu hal lagi yang membuatku berhenti menulis, ketikanya kutersadar aku mulai menggila karnanya..Ramanda Philoeza Mahendra. Kupikir denganku tak menulis aku bisa melupakannya. Menghadapi realita yang terus kuobrak abrik..
Dan kini tak lagi kupikir panjang lagi, aku akan menulis lagi, mencari sebuah kenikmatan kata...tentunya dengan sebuah kesadaran agar ku tak lagi lengah terjerumus dalam dunianya. Biar saja ia terus menjadi temanku tapi tak untuk patahkan kenyataan hidup.
Menulis membuat pikiran ini terus melaju, tak diam lalu mati. Kata adalah teman paling sejati. Jikanya mereka tengah menari dalam satu harmoni, uhmm betapa indahnya menghiasi dunia ini. Dengan kata kita bicara, dengan kata kita tahu, dengannya pula kita saling mengenal.
Yach..smoga kubisa terus menjaga blog ini...ungkapkan semua pikiran pikiran liar yang bergumul tak mau pergi. Daripada dilampiaskan yang tidak benar, lebih baik kita berkarya kawan....
Di hari kemerdekaan ini....mari kita terus menulis untuk bangsa kita Indonesia Raya..!!! Merdeka....
Kita merdeka untuk menulis...bebas membahas kata, menjadikannya indah...

Kamis, 13 Agustus 2009

Vote for 14…

Terlalu banyak 14 yang tlah kulalui bersamanya, 14 tawa…14 tangis…14 amarah…14 bahagia…yang tak kan habis mewarnai langkah perjalanan ini.
Ketikanya setitik cinta meleleh menghangati sekujur tubuhku, sedianya aku tlah siapkan tiap ruang dalam hatiku untuk tawa, amarah, tangis, bahagia, dan ego yang mungkin bertandang. Kucoba terus bertahan merengkuh bulir-bulir melodi agar kita tetap satu harmoni. Melantun bersama dalam proses pendewasaan diri hingga nanti Tuhan merestui kita. Tak ada harapan yang berlebihan disini, tak kan ada kata ‘sangat’ untukmu…karna tak juga ingin kudengar sangat sakit. Biarlah kita berjalan apa adanya. Langkah demi langkah membuat kita belajar tentang berartinya setiap detik yang kita miliki. Terkadang luka itu memang harus kita nikmati, agar nanti kita tahu betapa nikmatnya makna bahagia.
Hadirnya memang sederhana, menumpuk tiap sederhana yang kau punya hingga membuatku candu tapi tak berlebih. Ah sering kukehilangan kata karnanya…
Kubiarkan saja ketika amarah hadir diantara kita, tak lalu kumenyerah. Hanya sedikit jengah dan kucoba menikmatinya. Dan nantinya ketika kutimang tawa, ku akan merindu pada amarah yang membuat diri lemah.
Proses….ya. Proses….Berapa kilometer tlah kita lalui, berapa senja tlah kita jamahi….
Selalu senja yang membuatku semangat menantimu…keelokannya seolah mengatakan bahwa tak perlu ada cemas yang terkemas. Tapi apakah ku boleh sedikit bertanya tentang esok masihkah kita terus melaju ?
Slalu kurindu saat kita sujud kepada-Nya….kuharap kau bisa menjadi Imam yang terbaik untukku. Mendendangkan doa-doa yang terangkum pada sebuah harapan hari esok…tentang masa depan gemilang yang Tuhan berikan. Sekiranya kan mendekap erat kita dalam satu akad.
Ini bukanlah mimpi atau sekedar khayalan, namun setitik harapan yang kan menjadi baris-baris kehidupan kita. Fajar akan memberikan arti…hingga senja akan menghiasi dunia ini dengan asri….. ( upss..).

Selasa, 11 Agustus 2009

Dari cerita yang mungkin sekedar fiktif belaka

Dibukanya lembar demi lembar rangkaian persahabatan dalam album yang lama tercecer. Tak ia kira, tlah begitu banyak tawa, tangis, dan amarah yang tak tersentuh olehnya.
Ya. Namaku Dinda. Pernah kupunya seorang teman dari masa dimana belajar bersama, berjalan bersama hingga toga itu kita pakai bersama. Aku selalu mendengar semua yang ia ceritakan, tentang kebanggaannya di masa silampun.
Mereka bilang…dia manja, tak easy going, dan bla..bla..bla..yang sering orang bicarakan di belakangnya. Aku terkadang Bengal mendengarnya, tapi akupun juga merasakan hal yang sama dengan mereka. Yach mungkin memang kami dari keluarga dengan derajad yang sangat berbeda, jauh darinya yang bisa dibilang berkecukupan. Aku saja saat itu hanya dengan uang Rp.50.000 bisa hidup untuk seminggu. Itulah prosesku….dan aku tak kan pernah menyesalinya karna Tuhan sayang padaku atas segala cobaan ini..
Mungkin aku sedikit mengenanng masa-masa itu………..
Hampir tiap hari aku bersamanya,..kemanapun…kukira aku bisa benar-benar menikmatinya, tapi aku mulai meragukannya. Hingga di suatu waktu Tuhan mendekatkanku dengan sekelompok teman – teman yang kurasa sangat tulus, apa adanya, hati mereka kaya. Aku mulai sedikit jauh darinya, kita pun sibuk dengan kegiatan non akademik yang kita ikuti, ya….dunia kita memang sangat berbeda.
Begitu jauh hari yang tlah kita langkahi, tenggelam dalam rayuan kepuasan duniawi.
Aku tak banyak melihatnya lagi, ketikanya mereka bilang aku terhipnotis oleh caranya memanfaatkanku sebagai teman. Aku tak pernah menyadarinya…
Kini, ketika kuingat semuanya….kembali kuberpikir, kita memang beda dunia. Walaupun aku memang merindukanmu, tapi aku tak tahu bagaimana menjadi sepertimu. Kulihat kau tlah menemukan segalanya yang kau inginkan…bahagiakah ?
Syukurlah jika itu memang yang terbaik, maaf jika ku tak bisa terus berjalan disampingmu. Semuanya tak akan terulang lagi, kecuali Tuhan berkehendak.
Ya mungkin hanya sesekali kita bisa bersua, tapi tanpa kehangatan itu lagi….entahlah…
Apakah kau masih mengingatku sebagai temanmu yang tak sekedar teman?

Namaku Dinda. Semoga kau masih mengingatku sebagai ‘teman’ walaupun kau telah bahagia dengan duniamu yang baru…

Dimana kau ?

Aku tak menemukanmu
Ketika kusibak ruang ruang kosong ini
Ketika ku butuh uluran tanganmu
Di ujung sana kau tenggelam
dalam tumpukan tumpukan kertas yang memaksamu terpaku
Entah dimana kudapat mengais sepuluk rasa kenyang
Sedikitpun tak dapat kulihat cahaya manusia manusia yang suka berjejal
Apa kau juga larut bersama mereka?
Hanya alunan nada nada kelaparan yang sendu terus menemaniku
Seakan mengajakku menyusuri lorong lorong kemanusiaan
Mendekap erat dengan peluh yang penuh warna

Di luar sana seorang bayi menangis meronta ronta
Ruang ruang hampa dalam perutnya seakan meminta haknya
Rasa dingin pun tak jauh dari nasib yang ia derita
Bahkan mungkin ia pun tak pernah tahu alunan nada yang harmoni
Sungguh ironis…
Terlahir untuk menjadi pengemis yang rindu timangan Bunda

Di satu sudut kemanusiaan yang elok
Mereka tengah beradu dengan keping demi keping yang terbuang sia
Tak mereka tahu betapa hedonnya dunia yang mereka tapaki
Hingga makna makna suryalis pun tak lagi nampak dalam ego yang bertandang
Sungguh nyaris…
Mati dengan predikat hedonis yang kental

Sesaat kuterkejap dengan ego yang terus mencarimu
Tak jua nampak kau dalam ruang tiga kali empat ini
Yang kutemukan hanya dua bait kisah kemanusiaan
Membangunkanku dari jalangnya jiwa yang kian melemah
Mengharap ampunan pada hidup
Memang terkadang mesti menghadirkan sepi antaranya
Ya……dan aku menikmatinya….
Bukan sebagai seorang pengemis
Bukan pula berpredikat hedonis
Cuma sedikit egois tuk tak memikirkanmu dalam lelahku

Sedikit tinta yang tersisa memaksaku bertanya
dimana kau…lelakiku ?

Diperawani oleh Waktu

Sunyi kembali bertandang dalam pekatnya hari
Mengabdi pada kota yang tertoreh berjuta kiasan kisah
Tak kan ada sedikitpun sajak yang mampu mengusir alurnya
Serupa noda noda kasih yang lekat mengikat bertautan
Terlihat jejak-jejak yang semakin bijak menapaki perjalanan tanpa akhir sesat

Disembunyikannya semburat senja pada kecup yang penuh misteri
Seakan merahnya tak kan berarti nyeri
Tubuh lunglai habis kebas terbebas oleh rasa yang mereka sebut nafsu
Tak mampu terabaikan dalam detik detik terakhir sebuah klimaks
Mengendap kental pada perjanjian kecil atas nama cinta
Entah sendu atau dahaga….

Setelah sekian peraduan kau tamatkan tanpa tanda titik
Kan masih terus terajut alunan alunan desah yang semakin menuju pada satu harmoni
Ketika kau entah dimana kutetap mendengar lengking suara yang merdu
Lonceng pagi itupun tak kan mampu mengusir hangatnya peluk suaramu
Ahhh….uhhh….aahhhh….

Percakapan kembali berbisik memecah waktu yang terlalu nafsu mengangkangkan peluh
Tak ada yang mengakhiri sedikitpun perhelatan jiwa yang tengah menghantam
Deras membasahi aliran darah yang jatuh bersama keringat panasnya
Dalam ruang kosong pojok bungkam tanpa meminta saksi
Dan kini….di antara larik sajak-sajak ini nafsu terus memaksaku merangkainya
Sekedar membunuh tiap sepi yang tak bertepi

Minggu, 09 Agustus 2009

Terkurungnya Kebebasan Berkarya Mahasiswa Dalam Sangkarnya

Kampus, yang dulu seperti rumah kedua bagi mahasiswa, kini tak lagi memberikan kemerdekaan tuk berkarya. Terlihat bakat-bakat terpendam mendekam dalam diri mereka. Seharusnya mereka bisa meluapkan segala maha karya dalam ruang batas Universitas sebagai bentuk komunikasi. Tak disadarikah, bahwa pendidikan non akademik tersebut membawa nama baik kampus yang bisa membanggakan dan justru banyak pelajaran kehidupan yang didapat dari kegiatan-kegiatan yang mereka sebut UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa). Entahlah mengapa ruang gerak mereka harus terbatasi oleh birokrasi-birokrasi yang dirasa semakin mempersulit. Bukankah kampus ingin mahasiswanya lebih maju ?
Dahulu, jiwa-jiwa seni itu terdengar meluap di dalam kampus, tapi kini, mereka malah meramaikan kehidupan di luar sana, dari event kecil hingga besar. Ya. Mungkin terkadang orang akan bertanya : “ wah kuliah dimana mas/mbak? Lulusan mana mas/mbak ?”. Tak tahukah wahai bapak-bapak yang punya jabatan bahwa mereka menambah nilai plus untuk kampus tercinta ?.
Kebijakan kampus memang tak bisa diganggu gugat. Mereka punya kuasa tentunya dan kami mahasiswa hanya bisa membayar uang pendidikan, walaupun mungkin banyak suara hati kecil yang bicara tentang transparansi dana.
Sungguh ironis…ketikanya para mahasiswa terlihat sibuk mengadakan event-event besar di luar kampus, menghiasi kota Solo sebagai The Spirit of Java, kota yang penuh budaya, tapi ketika kita lihat kembali ke kampus kita…sungguh sepi, tak ada pentas-pentas dengan panggung yang berdiri kokoh.
Mungkin hal itu tak begitu berarti bagi mahasiswa-mahasiswa yang datang ke kampus saat jam kuliah lalu langsung pulang, tak pernah menikmati betapa pentingnya belajar berorganisasi, bersosialisasi, dan tentunya berkarya. Pengalaman itu mahal harganya kawan…
Coba kembali kita lihat mata kuliah yang ada di kampus kita, apa teori-teori itu hanya akan berhenti dengan nilai yang dosen berikan ? Apa tidak lebih baik jika mahasiswa juga bisa mempraktekkannya dalam karya-karya mereka?
Ya mungkin dalam hal praktek kampus telah memberikan kesempatan, tapi bukankah itu termasuk kategori akademik ? Ya. Selalu kembali ke situ.
Seolah suara musik, gentum drum band-band ternama, lenggokan tarian, pertunjukkan teater, sudah agak sedikit terlupakan di kampus ini, tak seramai dulu….

Terus semangat kawan-kawan. Jangan berhenti berkarya !!! Untuk sebuah bakat, tak ada sangkar yang mampu menjerat kalian….Tunjukkan kalau di luar sana, tanpa birokrasi yang dipersulit, kalian bisa berkarya. Tetap cintai kampus kita, rumah kita….

Rabu, 05 Agustus 2009

aku ingin menulismu


Aku ingin menulismu..terus menulismu....bahkan sampai tangan ini keriput oleh kata...
entah berapa lembar kertas kuhabiskan sekedar untuk menulismu. apa kau mengerti disana?
ah aku tak tau lagi apa yang mesti kuceritakan,.kepada terik yang semakin membuatku jengah ingin enyah..
kurasakan kau begitu lelah denganku, aku trus diam dan kau tenggelam. lalu apa akan ada harmoni jika laut tak berombak lagi.. oh kata….

Pena kecil yang kumilki perlahan berubah jadi abu-abu. Sekian banyak dendang kulantunkan untuk membuat hatimu ikut menari…bersama kata yang tersurat dengan merdunya. Sekedar berharap kau tumbuh menjadi Pria..Pria….dan bukan lagi lelaki yang sering kutunggu di batas senja itu…ketikanya waktu itu bertemu menghabiskan waktu bermain..tertawa…hingga tak risau akan fajar yang terus mengejar. Kini ku ingin lihat kau datang dengan kemeja merahmu…mengepal kata dewasa dalam peliknya tujuan.

Segala kata yang jalang tak mau pergi dari otakku ini…bergumul terus membicarakanmu,..entahlah apa yang mereka rencanakan tentang hati terlanjur terpatri.
Dan saat ku bungkam rangkuman makna itu…kau kira aku tak ada alasan tentang sgala raut yang jengah. Ya..ya…ya. Bagaimana ku bisa membunuh kata.

Embun pagi meneteskan air mataku…ketika tak kusadari kata terus menulis hingga fajar menenggelamkan senja. Apapun yang akan kau gantikan dalam tiap lembar maha karya kita…tak kan sanggup menghapus setitikpun coret yang tlah menghiasi senja.

Dan aku masih ingin terus menulismu……………………………………..

Mencari prianya pria (Bag II)

To be continou…...


Dan setelah kepergian wanita itu, aku kembali membaca lembar demi lembar buku merah jambunya yang tak sengaja ia tinggalkan begitu saja. Kumulai membukanya dari halaman depan. Banyak skali nama Ramanda ia lantunkan, entah dalam sukanya..hingga ia basah oleh peluh. Aku smakin mengerti apa yang ada dalam perasaannya hingga pada suatu lembar ia bercerita…….

“………………………………………………………………………………………”
Ramanda, tentang hari yang slalu kunanti. Aku tak pernah berpikir kalau ini semua hanya sebuah mimpi, sebuah kegilaan yang membuatku tak sadar. Aku memang menciptanya dari sebuah harapan. Tentang kamu….cinta…sebuah rumah….tentang kita yang nyata.
Hingga sebuah nama tentangmu pun tak sengaja hadir saja dalam hidupku…’Ramanda Philoeza Mahendra’….Jangan kau tanyakan darimana kudapatkan nama itu, nama penuh makna yang mungkin saja Tuhan yang kirimkan tuk menjadi nyata.
Sampai hari bersejarah itu, seorang adam Tuhan kirimkan tuk mengobati luka hatiku. Aku memilih meninggalkanmu Ramanda, namamu pun kupinjam tuk memanggilnya. Ya. Philo, begitu aku memanggilnya. Sungguh filosofi sepertinya….
Aku belajar mencintainya sperti kumencintaimu dan senja…ya, seperti yang slalu kukatakan padamu. Dan aku tlah benar-benar menyayanginya, sampai sedikitpun aku tak mengingatmu karnanya. Namun, ketika tiba-tiba saja seseorang kenalan dari masa putih abu-abu ku datang ( jujur saja akupun sudah lupa siapa dia, hanya karna orang tua kita saja saling mengenal), dia sedikit mengacau hubunganku. Tak usah kujelaskan detail, yang jelas orang tuaku menyukai dia, mungkin karna dia sudah kerjalah, mungkin karna orang tuanyalah. Sedikit demi sedikit kucoba yakinkan orang tuaku bahwa kekasih pilihanku adalah yang terbaik, bla..bla..bla….(mungkin dia tak pernah tau bagaimana ku menyayanginya…). Tapi sperti kata orang tuaku, aku tetap menjalin silaturahmi dengan pria putih abu-abu itu, tak menyakitinya, istilahnya menolaknya dengan halus.
Dan aku masih terus belajar menyayanginya Ramanda….mencoba menikmati realita ini. Maaf Ramanda….
“……………………………………………………………………………………..”

Seperti ada yang bergejolak dalam hatiku, entah karna aku mengerti tulisan itu atau karna aku bertanya-tanya…siapa pria itu ?
Belum slesai kumenamatkan pemahamanku, kudengar seseorang mencoba membuka pintu. Ternyata wanita itu tlah kembali, cepat-cepat kukembalikan buku merah jambu ke tempat semula. Tampaknya kekecewaan masih mendekam dalam wajahnya. Ada apa gerangan? Darimana dia pergi semalaman? Ah ingin tau saja aku ini….
Buuukkhh…dia rebahkan tubuh kecilnya di ranjang sudut ruang ini. Cuma terdiam, tatapan kosong….dan seperti kuduga, air mata itu kembali menetes berebutan.
Huuhh…apa ini masih karna cinta ? sungguh aku tak mengerti sehebat apakah cinta hingga membuat manusia seperti ini?
Tak lama wanita itu pun tertidur seakan pasrah…mungkin terlalu lelah dan jengah. Tak apalah biarkan ia menikmati pagi ini hingga nanti untuk tidur, biar hilang sgala penat. Ingin rasanya kucari pria itu, Pria? tapi ku tak yakin apa dia sudah melalui proses menjadi pria sejati. Seorang pria tak kan mudah tergoda oleh egonya, dia akan berpikir lebih dewasa, mentalnya kokoh dan mampu menjaga komitmen dengan seorang wanita. Hahaha, tau darimana aku ini,..terlalu teori mungkin ya..
Aku hanya menatap wanita itu tertidur, ehhmm.manis juga ya…dari raut wajahnya spertinya dia bukan wanita biasa,sperti kusangat mengenalnya..banyak hal pahit tlah ia lalui tentunya. Ahhh..knapa aku jadi suka bikin prediksi sperti ini !
Tak terasa di luar sana senja mulai menampakkan kecantikkannya. Seakan redup…
“Doggh...doghh...doghh…” , seseorang di luar sana mengetuk- ketuk pintu. Wanita itu tentu saja terbangun oleh suara berisik yang mengganggu tidur panjangnya. Pelan-pelan ia beranjak dari ranjangnya yang basah oleh air mata, tak peduli akan dirinya yang sungguh sperti tak terawat. Dibukanya pintu dan terhenyak dia dari tempatnya berdiri. Akupun ikut kaget ketika kulihat seorang pria datang mengenakan jaket yang sama dengan pria kokoh saat meninggalkan ruangan ini, kala itu. Apakah dia pria itu ?? geram aku dibuatnya…kumencoba tenang dan mengikuti alur mereka berdua.
Tanpa kata, wanita mempersilahkan pria itu masuk ke dalam ruangannya. Terduduk mereka berdua di atas ranjang yang berantakan tadi. Cukup lama mereka terdiam, bisu. Ah adegan apa ini? Ayolah aku ingin segera tau apa yang terjadi?
Wanita itu mencoba memecah kesunyian, membuang sgala egonya.
“ knapa kau kesini ? kukira kau tak lagi mau kesini ataupun peduli padaku karna aku yang salah bukan?”
Kulihat wanita itu lebih tegar setelah bangun tidur,..

“aku….maafkan aku karna kemarin aku tak jadi datang tuk membicarakan masalah kita, aku sakit”, ucap sang pria.

Lalu wanita mencoba menatap matanya seolah mengungkapkan berjuta makna yang tak kuketahui. Aku hanya bisa melongo ketikanya kudengar banyak ia berkata…
“ Ya, aku berusaha mengerti kamu, kemarin pun saat kutawarkan membawa makanan untukmu, kau tak mau. Aku memang begini adanya. Mungkin banyak hal yang lama tak kita bicarakan, kita tlah melupakan satu teori cinta, kompromi. Ya, karna banyak alasan membuat kita tak bisa bicara dari hati ke hati. Hingga kita pun tak tersadar kalau ego bertandang menghampiri kita. Dan ego selalu datang dengan berbagai masalah tuk berusaha memisahkan kita. Masalah kecil telah ia olah menjadi momok yang seolah membuat kita meledak. Lelah….lelah pikirmu juga terpancing tuk berteman dengan emosi. Memang mereka begitu lekatnya, melebihi hubungan kita.
Aku tak tau lagi…aku tak berharap banyak, hanya jika memang hubungan ini masih bisa berlanjut, aku akan berjalan lagi disampingmu. Setiap tahap hubungan itu selalu ada cobaan yang lebih berat. Begitu bukan? Dan Aku tlah meresapinya…maafkan aku…”

Sungguh ku tak bisa berkata apa-apa melihat adegan itu…
Lalu…sang pria memeluk wanita sambil berurai air mata…diucapnya maaf berulang kali, baru disadarinya bahwa kesibukan dunia tlah menenggelamkannya dalam amarah.
Akhirnya kubisa menghela lega……dalam senja ini mereka kembali menyatu.
Senja….dan aku harus pergi.

***
( Mereka berdua terkaget sambil melepaskan pelukan sesaat terdengar buku merah jambu terjatuh dari meja, dalam hati wanita berkata, ”apakah itu Ramanda yang pergi meninggalkan ruangan ? ya. Itu pasti dia. Makasih Ramanda” )



*end*

Minggu, 02 Agustus 2009

mencari prianya pria (Babak I )


Ketikanya sebuah percakapan kudengar dari bilik sebelah, dua orang manusia tengah beradu dalam perdebatan sengit. Entah karna hal sepele atau maksiat yang mereka dapatkan. Keegoan tengah menggoda mereka tentunya. Dengan sedikit tengokan pun, jika ia tlah datang, cinta pun sudah tak ada harganya lagi. Semakin kudengar teriakan itu, bulu kudukku seakan berlari satu persatu meninggalkanku. Kemanusiaan macam apa yang sedang mereka satukan ? ah apa itu yang mereka sebut cinta ?
Tak sadarkah ketika dahulu mereka banggakan arti cinta, mengumbar romantika melebihi semua kemanusiaan.
Isak tangis tak lama hadir mencengkam dari bilik itu. Satu gebrakan terdengar dan kulihat lelaki itu keluar meninggalkan peluh. Hanya punggungnya yang kokoh kulihat dari kejauhan, tapi ku tak yakin, apakah hatinya sekokoh tubuhnya itu. Meninggalkan seorang wanita dalam genangan air mata penuh sesal. Kucoba mendekatinya, ingin kuraih tangannya, kupeluknya agar ia sedikit reda. Kuusap air matanya, kuberikan semangat dengan sedikit cerita tentang cinta yang suatu waktu sampai pada titik jenuh. Ya. Titik itu yang terkadang membuatmu luka. Jangan khawatir wanita…(mungkin begitu saja kumenyebut dia ), itu hanyalah cobaan yang justru akan membuat kalian kuat dan itu memang harus kamu lewati. Sebuah proses menuju klimaks terkadang memang sedikit sakit. Tenanglah wanita….ambillah air wudhu lalu tidurlah. Biarkan luka itu larut dalam gelapnya malam ini.
Gila…absurb..! Apa yang kulakukan ? knapa baru kusadari aku tak dapat benar-benar menyentuhnya…wanita itu masih tersedu dalam tangisnya, aku Cuma ingin mendengarnya bercerita,..kenapa perdebatan itu terjadi ?
Benar-benar wanita itu tak tahu keberadaanku…maafkanku wanita…
Aku tetap berdiri di pojok itu, sesaat kulihat dia membuka buku merah jambu yang ia keluarkan dari lemari. Tak lama ia menulis kata demi kata yang membuatku terus penasaran. Ya …kali ini aku bisa membacanya.
“…………………………………………………………………………………”
Ramanda….
Entah kenapa harus padamu aku mengadu…setelah sekian lama kupendam jauh-jauh, sekedar ingin hidup wajar dalam realita. Apa seperti ini yang namanya realita ?
Maafkanku jika aku terpaksa kembali dalam duniamu. Aku lara ramanda…biarkan peluh ini sedikit kurebahkan disampingmu. Apa ego itu punya derajad yang lebih tinggi dibandingkan cinta? Sungguh tak manusiawi…ironis..
Dalam sebuah cinta, perlu kompromi…perlu kesabaran, hingga proses akan terus berlanjut. Hal sepele bisa menjadi besar jika emosi telah menghipnotisnya.
Diri ini Cuma begini adanya, tak lebih dari angka sepuluh, namun aku punya harapan tuk kuterus mencoba menjadi terbaik. Dunia lelaki memang sepenuhnya berbeda dengan duniaku. Terkadang aku pun perlu mengejanya satu persatu agar ku bisa membacanya.
Apa aku akan menemukan prianya pria dalam senjaku ramanda ?
Apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai senja….dan kau Ramanda…?
“…………………………………………………………………………………”

Baru saja tanda Tanya ia tamatkan tanpa jawab, ia mendapatkan pesan singkat dari telepon genggamnya. Tak lama setelah membacanya, ia langsung mengambil sweeter dan pergi meninggalkan lembaran isi hati tersebut. Entah kemana ia pergi, aku tak bisa mengikutinya. Tubuh ini serasa terikat dalam sudut ruang ini.
Begitu payahnya aku ! tak bisa menjawab tulisannya. Tak bisa hadir nyata untuknya.
imajikah....

sunset menggila

Tentang kisah yang terlanjur lekat

Menyemat kalimat tanpa tamat

Entah terlalu pekat

Atau malah banyak sekat

Sperti sunset yang terlanjur kunikmati

Menyesaki tiap pori bibirku

Bermain main keegoan yang nakal

Tuk sekedar menamatkan satu kata

‘kegilaan’

Kiranya pekatmu masih lekat

Memang kegilaan pekat dalam sunset

Dan aku akan jadi lawan mainmu

Dalam adegan yang tanpa kau sadari

Sebenarnya bangsat !

Namun aku tak sesat karna

Sunset.

percakapan tanpa bentuk


Apa kau tak lelah berdiri di situ?
Ya. Aku melihatnya, di sudut itu dia tengah pongah memendam diri seakan tak punya arti. Tak tau sampai kapan dia akan menunggu pintu di sudut itu terbuka.
Gila ! Apa dia sudah gila ? sudut itu terlalu bungkam, sudut itu terlalu sepi.
Heh ! ayolah..kubur saja sudut itu…dan kau…aku!
Kau tau? Tentang kemarin yang seakan tak ada pintu lagi, aku pernah takut, bakal mati di sudut mlikku sendiri. Lalu kucoba melompat dari jendela yang tak pernah kukenal, dan semestinya aku terjatuh.
Itulah awal. Ketika semuanya mengantarkanku sampai di ruang ini. Ya. RUANG. Tak lagi sudut. Walaupun ruang ini pun tak begitu indah, tapi aku akan terus menghiasnya.
Tentang mimpi yang menjadi harapan, aku masih mempunyainya. Sekedar bekal tuk ku kuat berlari, hingga nanti pada saatnya ruang yang kupunya akan menjadi Rumah, mungkin juga istana.
Lalu, apa kau masih mau berdiri terus di situ?

malaikat kecil yang sejenak singgah

Aku masih terjaga
Ketika para malaikat kecil datang di malam itu
Mengajakku terbang ke negeri tanpa batas
Tertawa…
Berlari…
Menari…
Menyanyi…
Tanpa sgala cemas karna esok kan ganas
Tak peduli kata mereka !
Malam hanya milik kebahagiaan
Yang sendiri menunggu malaikat kecil datang
Dalam ruang hampa namun tak alpa
Malam ini malaikat kecil masih menjagaku
Di samping kini ku berbaring
Ia terus bernyanyi
Dan pagi…
Aku harus pergi.



Malaikat kecil…
Esok aku tak mau begini !

Sabtu, 01 Agustus 2009

pelampiasan hasrat

Di pojok bungkam kudengar sahut menyahut suara hati yang beradu pada genangan air mata yang kian membanjiri. Mereka bilang cinta itu anugerah yang membuat kita bahagia, cinta membuat kita menjadi merasa istimewa, saling memberi kekuatan dalam satu papan yang penuh pengertian. Ketika seorang makhluk bernama Adam Tuhan kirimkan padaku, sedianya tlah kusiapkan segala resiko yang mungkin bertandang…tak jauh jatuh jika memang perih. Dan ternyata ruang itu kini penuh peluh mengeluh perih, oleh sebuah ego yang nakal tak mau pergi. Apa yang ada dalam pikiranmu?

Seolah diri ini yang selalu salah…bagaimana kubisa ungkapkan semua ini, aku terlalu sesak oleh air mata . Telanjangi saja jiwa ini..biar kau puas onani perasaanku. Jika kita dilahirkan dalam sebuah perbedaan, apa mesti seperti ini takdir seorang wanita ?

Seperti babu yang mesti sedia apa yang Tuan inginkan, menyediakan secangkir semangat dikala Tuan datang, istilahnya tanpa Tuan gaji, tanpa Tuan timbal balik, saya mesti rela ?

Kita dilahirkan berbeda Tuan ! Tapi kita tetap seorang manusia yang mempunyai hak.

Salahkah?

Ada yang retak di ruang ini, ketika seorang wanita tengah baya diperkosa hatinya. Memang cinta dan nafsu tak ada bedanya, terbelenggu dalam peluh ego yang terus menghisap. Tuan itupun tak peduli meninggalkannya bersimbah luluh air mata, seakan Tuan tak puas akan klimaks yang tak sempat terjadi. Berapa banyak lagi air mata yang mesti raib bersama sperma keegoisan. Tuan pun terus melangkah mengangkangi kebisuan yang tak terjawab.

Tlah kupilih kau Tuan,..ketika sang Bunda mengatakan lain. Kubesarkan namamu Tuan,.ketika mereka tak tahu sedikitpun tentangnya. Sekedar menjaga sebuah hati yang tlah menjadi, biar terus bernafas dalam keperawanannya.

Apa yang harus kulakukan lagi ? aku hanyalah manusia yang tak sempurna...tak lebih dari angka yang terbaca sepuluh.

Aku dilahirkan sebagai wanita…

Dengan bekal cinta yang Tuhan berikan,..titah yang mesti dibagikan pada hati yang terpilih. Apa salah jika itu kau?

Maaf Tuan …mungkin aku salah sepenuhnya memberikan hatiku. Aku tak bisa penuhi nafsumu Tuan, mengantarkanmu pada klimaks yang tak tepat waktu.

Wanita...sungguh ironis…