Kamis, 03 September 2009

Pak Andjar Puspito ( Biografi yang menggugahku )


Repost : Dibuat oleh pak dhe Teguh sebelum Ayah ANDJAR Purna tugas

Siapa tak kenal sosok ini, selain ia seorang pekerja yang cakap dan santun , ia juga senang bergaul, humanis, hebat dalam bernyanyi dan seorang rohaniawan. Kalau sebut namanya pasti banyak orang yang mengenalnya karena nama Andjar Puspito sudah termasyur di lingkungan karyawan , juga di kemahasiswaan dan pelajar tingkat sekolah menengah umum di Jateng dan DIY .Karena melalui pengabdianya di Divisi Komunikasi menangani magang, gladi dan PKL selama 3,5 tahun tercatat tidak kurang 3000 siswa yang telah lulus dan lolos dibinanya.

Menurut biografinya Andjar selepas menyelesaikan pendidikan SLTA di kota Purbalingga Jawa Tengah tahun 1972, putra keempat dari pasangan bapak Soepardi dan ibu Wiyati ini harus meninggalkan kampung halaman menuju ibu kota Jakarta . Berawal sebagai tukang stensil di percetakaan kemudian meningkat menjadi karyawan pabrik bagian gudang dan akhirnya pindah ke perusahaan pipa ?Pralon? joint venture Indonesia ? Jepang yang berlokasi di Cimanggis Bogor, sebagai operator mesin. Merasa beratnya bekerja sebagai operator mesin yang harus kerja siang dan malam , mendorongnya dirinya untuk mencari pekerjaan lain yang akhirnya diterima sebagai juru operator Telegrap di Perusahaan Negara Telekomunikasi.

Mengawali karir di Perusahaan Negara Telekomunikasi yang kemudian berubah menjadi PERUMTEL, sebelum diangkat menjadi Capeg pada tanggal 1 Maret 1978, terlebih dahulu harus menjalani pendidikan sebagai Operator Telegrap selama kurang lebih enam bulan, untuk belajar teknologi tempo doeloe ?Morse? dan ?Melirik Pita Teleprinter? yang kini tergantikan dengan teknologi digital. Usai pendidikan, dibenum untuk pertama kalinya di Seksi Expedisi Kantor Telegrap Gambir Jalan Merdeka Selatan Jakarta hingga tahun 1983.

Sejak tahun 1983 hingga 1985, suami dari Sri Kunenwati yang juga seorang PNS ini berkesempatan mengikuti pendidikan penjejangan PAMTU Telekomunikasi di Gegerkalong Bandung, sehingga urusan kuliah sambil kerja yang dilakoninya pada jurusan Administrasi Negara Universitas Krisnadwipayana Jakarta hingga tingkat empat ditinggalkannya demi mengejar karir di perusahaan.

Tamat dari pendidikan Telkom di kota Bandung, bapak dua putra yang punya hobi mancing dan nyanyi ini ditempatkan untuk yang kedua kalinya di pulo dewata Bali, tepatnya di Seksi Kepegawaian Kandatel Denpasar, salah satu tugasnya melakukan tes kesegaran jasmani bagi karyawan di Catel-Catel, mulai dari Kancatel Negara, Tabanan, Denpasar, Bangli, Klungkung hingga Karang Asem atau dikenal dengan Amlapura, sehingga hampir seluruh pelosok wilayah Propinsi Bali pernah dijelajahi.

Saat bekerja di Bagian Kepegawaian Kantor Witel VIII Denpasar, datang panggilan dari Jakarta untuk mengikuti lomba kroncong Telkom tingkat nasional di Jakarta, usut punya usut, Bapak Suwito (dikenal buaya kroncongnya Telkom) merekomendasikan bahwa saya pernah memenangkan lomba kroncong di Jakarta .

Setelah enam tahun bergelut dengan data kepegawaian (SIMPEG) di Denpasar Bali , datanglah musim alih tugas dan saya diisukan akan dipromosikan sebagai KASUBSI Kepegawaian di Kandatratpon Dili Timor Timur sebelum lepas dari NKRI. Keruan saja issue itu membuat keluarga kalang kabut, pasalnya, anak laki-laki pertama belum disunat, khawatir di Timtim tidak ada dukun sunat tanpa basa-basi anak laki-laki satu-satunya dibawa ke RSAD Denpasar untuk segera dikhitan. Saat mengadakan syukuran khitanan di rumah diperoleh khabar, bahwa mutasi bukan ke Dili tapi ke pulo Sumbawa tepatnya ke Kandatel Bima NTB .

Meski daerahnya gersang dan udaranya yang panas namun empat tahun di Bima NTB membawa kesejukan tersendiri karena bisa bertemu dengan tokoh-tokoh alim ulama yang gigih melakukan dakwah dan mendidik ratusan santri, H. Ramli Achmad salah seorang sahabat yang mantan Qori Terbaik Tingkat Nasional tahun 1983 sekaligus pemenang Hafidz Qur?an tingkat dunia di Mesir pada tahun yang sama, memberikan warna tersendiri bagi perjalanan rohani dan peningkatan keimanan.

Setelah sepuluh tahun malang melintang di NTB, akhirnya turunlah SK mutasi nasional yang membawa pulang kami sekeluarga ke pulau jawa, dambaan bagi setiap karyawan Telkom untuk kembali ke habitatnya, setelah puluhan tahun bertugas di luar jawa, merupakan kegembiraan dan kebahagiaan bisa berkumpul kembali dengan sanak keluarga tentunya.

Masuk ke Divre IV Jateng & DIY Agustus 1995 berbarengan dengan datangnya angin perubahan organisasi menjadi KSO, yakni kerjasama operasi antara Telkom dengan perusahaan telekomunikasi Jepang, Singapura dan Australia, rupanya membawa hikmah sendiri bagi pria yang tidak suka merokok dan minum kopi ini, pasalnya meski hanya berbekal ketrampilan Litle Conversation, pada tahun 1997 mendapat tugas dari Kabid SDM Bapak Bambang TSW untuk berangkat ke negeri kanguru Australia, guna mengikuti pelatihan Human Resources Management di Sidney University, salah satu universitas tertua di negeri ini. Dennis Pratt, salah seorang instruktur, pakar dan penulis buku-buku HR Management menghadiahi sebuah buku karangannya berjudul Aspiring to Greatness, Above and B eyond Total Quality Management dengan secarik pesan For Andjar, I hope You Find it a Useful Book,? dan buku itu kini masih rapih tersimpan.

Waktupun terus berputar dan tiada terasa sepuluh tahunpun berlalu, ketika bertugas di Unit Telkom Flexi (UTF) Divre IV, karyawan yang sering mendapat tugas sampingan, Membacakan Doa di lingkungan kantor ini mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi ibadah haji berhasil lolos seleksi dan mendapat penghargaan perusahaan tertinggi untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci dengan biaya perusahaan.

Kini, tujuh hari menjelang memasuki masa purna bhakti, Andjar merasalkan dirinya terlihat semakin berat untuk meninggalkan rekan-rekan di Divisi Komunikasi sebagai bempernya perusahaan. Dari pengakuannya ?Divisi Komunikasi saat ini semakin solid, kompak dan penuh toleransi dalam kebersamaan menjalankan tugas sehari-hari . Pak Djatmiko sebagai komandan Purel yang tidak suka menunda pekerjaan dan banyak teman, Lik Madiman yang pekerja keras dan olahragawan, Pak De Teguh Cocomeo meski keberatan badan tapi daya pikir dan analisanya sangat tajam, kini mereka telah menjadi teladan dan guru saya dalam olah pekerjaan , demikian pengakuan sambil meneteskan air mata,

Pada awal September memang nama Andjar Puspito seakan menghilang dari jajaran Divisi Komunikasi, tapi harus diakui nama sosok itu masih melekat di hati jajaran ini. Komunikasi yang proaktif, dewasa, santun ,rendah hati dan penuh pengertian patut sebagai ilham bagi orang yang mengenalnya. Selamat jalan Almucharom Haji Andjar Puspito, seluruh jajaran komunikasi dan Sekretariat , SM.YK,SLO,PKL,PWK, D04, melepasmu dengan bangga penuh ketakjuban. Selamat menjalankan kenikmatan purna tugas , Tuhan menyertaimu!



NB : Kan slalu merindu saat2 bersama pak....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar